Sistem Tanda dalam Tradisi Gowokan di Desa Babagan, Lasem: Perspektif Semiotika Saussure

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.32585/kawruh.v8i1.8009

Kata Kunci:

Gowokan, Semiotics, Sign System, Meaning, Babagan Village

Abstrak

Indonesia memiliki keragaman suku, ras, agama, dan budaya yang tercermin dalam tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun, seperti tradisi gowokan di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Desa Babagan yang berada di kawasan budaya Lasem dikenal sebagai bagian dari wilayah historis di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang memiliki kekayaan tradisi dan akulturasi budaya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik tradisi gowokan serta menganalisis sistem tanda yang terkandung di dalamnya Grand theory yang digunakan adalah semiotika struktural Ferdinand de Saussure mengenai relasi penanda (signifier) dan petanda (signified), dengan teori pendukung perspektif post-strukturalis yang menyatakan bahwa satu penanda dapat menghasilkan petanda yang majemuk. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Data penelitian berupa tuturan informan, rangkaian prosesi, simbol sajian, dan dokumentasi visual. Sumber data diperoleh dari kepala desa, Mudin, pelaku tradisi, dan sesepuh setempat melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi, penyajian data, serta interpretasi makna menggunakan relasi sintagmatik dan paradigmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur dalam prosesi gowokan seperti sega liwet, sayur kunci bayem, beras kunir, dan dhuwit klithik merupakan penanda (signifier) yang memiliki petanda (signified) berupa nilai syukur, harapan, kemakmuran, dan harmoni sosial. Prosesi lempar udhik-udhikan menjadi simbol berbagi rezeki dan penguatan solidaritas komunal. Tradisi gowokan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan teks budaya yang merepresentasikan pandangan hidup masyarakat Babagan. Melalui analisis semiotik, terungkap bahwa tradisi ini berfungsi sebagai media komunikasi simbolik dalam menjaga identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat Desa Babagan di tengah perubahan zaman.

Kata kunci: Gowokan, Semiotika, Sistem tanda, Makna, Desa Babagan

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Abdullah, W., & P., A. (2021). Kearifan lokal Jawa dalam tradisi mitoni di Kota Surakarta (Sebuah tinjauan etnolinguistik). Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture, 19–26. https://doi.org/10.32585/kawruh.v2i2.907

Afni, N. (2025). Karakteristik makanan sebagai identitas budaya: Studi komparatif kuliner Timur Tengah dan Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 12883–12890.

Anisatullatif, M., & A., A. (2024). Makna dan fungsi tradisi Tedun di Desa Sambong Kecamatan Sumber, Rembang: Kajian semiotika Charles Sanders Peirce. Jurnal Sosial Dan Sains, 1117–1125. https://doi.org/10.59188/jurnalsosains.v4i11.31490

Dora, N., & W., S. (2025). Tradisi Brokohan: Nilai-nilai dan makna dalam suku Jawa. Jurnal Tips: Jurnal Riset, Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 30–36.

Efansyah, T., & A., L. (2024). Tradisi menabur beras kuning dalam prosesi pernikahan. Attractive: Innovative Education Journal, 480–486. https://doi.org/10.51278/aj.v6i1.1140

Fatchur Rohman, K., & K., M. (2023). Pengembangan media ensiklopedia musik untuk meningkatkan aspek kognitif materi alat musik Nusantara. Jurnal Pendidikan Dasar, 104–105.

Fauziyah, E., & R., B. (2021). Simbol pada tradisi Megengan di Desa Kedungrejo, Waru, Sidoarjo (Kajian semiotika Roland Barthes). Jurnal Prosiding Samasta.

Hanipudin, S., & W., R. (2023). Tedhak siten: Tradition and religious values. IJIRCSL: International Journal of Islamic Religion and Culture Studies, 1–8.

Harun Sayyid Ar-Rasyid, M., & M., P. (2024). Motif batik Ambarawa (Kajian semiotika). Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture, 1–10. https://doi.org/10.32585/kawruh.v6i1.5046

Hasbullah, M. (2020). Hubungan bahasa, semiotika dan pikiran dalam berkomunikasi. Al-Irfan, 106–124. https://doi.org/10.36835/al-irfan.v3i1.3712

Julistiana, R., Devi, A. P., & Chandra, D. (2024). Semiotics System’S Perspective in Multimodal Efl Textbook: Meaning-Making Modes in Focus. P-TELL-US Journal, 10(4), 944–962. https://doi.org/10.22202/tus.2024.v10i4.8855

Karimah, N., & Wediyantoro, P. L. (2025). Semiotics of ritual: Cultural meaning in Javanese traditional wedding symbols. EnJourMe (English Journal of Merdeka): Culture, Language, and Teaching of English, 10(1), 101–109. https://doi.org/10.26905/enjourme.v10i1.15870

Kurnia, E. D. (2001). Nama-nama dan unsur gunungan dalam upacara Garebeg di Kraton Yogyakarta (Analisis morfo-semiotis). Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Lagopoulos, A. P., & Boklund-Lagopoulou, K. (2021). Theory and methodology of semiotics. Walter de Gruyter GmbH.

Mandaka, M., & W., N. (2021). Pemetaan budaya: Arsitektur Cina di Desa Babagan-Lasem Jawa Tengah. Kolaborasi: Jurnal Arsitektur, 18–27.

Masrokhah, Y., & A., N. (2021). Tiban sebagai tradisi masyarakat meminta hujan di Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung: Ditinjau dari kajian semiotik. Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra Dan Seni, 224–229.

Perez, N., Bhaduri, S., & Chadha, A. (2026). Simulating Meaning, Nevermore! Introducing ICR: A Semiotic-Hermeneutic Metric for Evaluating Meaning in LLM Text Summaries. http://arxiv.org/abs/2603.04413

Pitaya, M. A. (2014). Tinjauan semiotika Kong Co pada Klenteng Gie Yong Bio Lasem. Catharsis: Journal of Arts Education, 33–39.

Pratama, F., & B., W. (2025). The structure of signs in Awayday film: A semiotic analysis by Ferdinand de Saussure’s theory (2009). Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2711–2731. https://doi.org/10.63822/b0cpzb59

Pugra, I. W., & A., M. (2025). The cultural significance of traditional foods in shaping Indonesian social identity: Challenges and preservation strategies. Journal of Language, Literature, Social and Cultural Studies, 21–32. https://doi.org/10.58881/jllscv.v2i2

Rahayu, I. (2022). Analisis bentuk, makna dan fungsi tradisi Tedak Siten dalam masyarakat Jawa di Dusun Purwodadi Desa Ciptodadi Kecamatan Sukakarya Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. e-Repository IAIN Bengkulu.

Sanchez-ovcharov, C., & Suarez, M. (2024). Peirce ’ s Pragmatism , Semiotics , and Physical Representation. May, 0–18. https://doi.org/10.4000/11p4t

Sardjono, B. (2014). Nyai Gowok: Novel Kamasutra dari Jawa. Diva Press.

Sari, E. N., & W., B. (2022). Makna filosofis tradisi Wiwit Panen masyarakat Desa Murukan Kecamatan Mojoagung: Proses pelaksanaan tradisi Wiwit Panen. Jurnal Budaya Nusantara, 130–136. https://doi.org/10.36456/JBN.vol5.no3.5687

Sendera, H., & Y., M. (2014). The semiotic perspectives of Peirce and Saussure: A brief comparative study. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 4–8. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.10.247

Sinulingga, J., & H., R. (2024). Fungsi dan makna Tombuan dalam upacara adat Marhajabuan etnik Simalungun: Kajian semiotika. Jurnal Pendidikan Tambusai, 24124–24129.

Sorensen, B., & T., T. (2022). Ferdinand de Saussure in contemporary semiotics. Language and Semiotics Studies, 1–5.

Yahelissa, H., Wongsopatty, E., Sabban, M. M., Naira, U. B., Naira, U. B., Naira, U. B., & Ulun, K. (n.d.). ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA. 7(1), 125–130.

Zaeni, A. (2025). Analisis semiotika Charles Sanders Peirce dalam tradisi Slametan Brokohan di Dusun Karangreja, Desa Bulaksari, Kec Bantarsari, Kabupaten Cilacap. Repository.uinsaizu.ac.id.

Diterbitkan

2026-04-05

Cara Mengutip

Aprilia Filiauma, Ermi Dyah Kurnia, & Prembayun Miji Lestari. (2026). Sistem Tanda dalam Tradisi Gowokan di Desa Babagan, Lasem: Perspektif Semiotika Saussure. Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture, 8(1), 26–39. https://doi.org/10.32585/kawruh.v8i1.8009

Terbitan

Bagian

Artikel

Artikel Serupa

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.